PALEMBANG — Ada pemandangan berbeda dalam pengamanan aksi mahasiswa di depan Kantor Gubernur Sumatera Selatan, Selasa (6/10/2026).
Di tengah situasi aksi yang sempat memanas, Kapolrestabes Palembang Kombes Pol Sonny Mahar Budi Adityawan, S.I.K., M.H., justru memilih turun langsung ke tengah-tengah massa mahasiswa.
Sonny tidak datang untuk berhadap-hadapan dengan mahasiswa. Ia mendekati massa, menyapa, mendengarkan aspirasi, sekaligus membangun komunikasi secara langsung dengan para peserta aksi.
Bahkan, di tengah suasana yang cukup tegang, Kapolrestabes Palembang turut membagikan jus jeruk kepada mahasiswa.
Momen sederhana tersebut menjadi perhatian dalam aksi. Segelas jus jeruk seolah menjadi simbol pendekatan humanis yang dilakukan aparat kepolisian dalam mengawal jalannya demonstrasi.
Alih-alih mengedepankan pendekatan represif, Sonny memilih komunikasi sebagai cara untuk menjaga situasi tetap kondusif.
Dengan berada langsung di tengah mahasiswa, ia menunjukkan bahwa kehadiran polisi dalam aksi unjuk rasa bukan untuk menjadi lawan massa.
Mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi, sementara kepolisian bertugas memastikan penyampaian aspirasi tersebut berlangsung aman, tertib dan tidak mengganggu keamanan masyarakat.
Pendekatan tersebut perlahan membuat suasana yang sebelumnya penuh ketegangan menjadi lebih cair.
Tidak terjadi bentrokan. Tidak ada adu kekuatan antara aparat dan mahasiswa. Aspirasi tetap disampaikan, sementara pengamanan tetap berjalan.
Bagi Sonny, komunikasi menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan selama berlangsungnya aksi unjuk rasa. Ketika aparat dan mahasiswa dapat saling berkomunikasi, potensi gesekan dapat diminimalkan.
Momen ketika Kapolrestabes Palembang membagikan jus jeruk pun menjadi gambaran sederhana bahwa sentuhan kemanusiaan dapat hadir di tengah situasi demonstrasi yang penuh tekanan.
Segelas jus memang terlihat sederhana. Namun dalam suasana aksi, tindakan tersebut membawa pesan bahwa polisi dan mahasiswa tidak harus ditempatkan sebagai dua pihak yang saling berhadapan.
Keduanya dapat berada dalam satu ruang dengan tetap menjalankan peran masing-masing.
Aksi mahasiswa akhirnya berlangsung damai. Tidak ada bentrokan maupun adu kekuatan.
Yang tersisa adalah aspirasi yang telah disampaikan, komunikasi yang tetap terjaga, serta pengamanan yang berjalan tanpa mengesampingkan sisi kemanusiaan.
Sebab, keberhasilan pengamanan aksi bukan semata-mata ketika massa dapat dikendalikan, melainkan ketika aspirasi dapat disampaikan dengan aman tanpa ada pihak yang terluka. (vie)

