Rencana Induk Jaringan LLAJ Dinilai Strategis Wujudkan Transportasi Massal Berkelanjutan di Sumsel

berita kita new
7 Min Read

Palembang, beritakitanew.com –  Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Sumatera Selatan menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Peran Strategis Rencana Induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dalam Mewujudkan Transportasi Massal Terintegrasi, Berkelanjutan, dan Efisiensi Transisi Kendaraan Fosil ke Mobil Listrik di Sumsel”.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Swarna Dwipa Palembang, Rabu (30/9/2026), tersebut dirangkai dengan pelantikan dan pengukuhan Pengurus MTI Wilayah Sumatera Selatan periode 2026–2029.

FGD dihadiri unsur Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, pemerintah kabupaten/kota, Dinas Perhubungan, pimpinan lembaga terkait transportasi, akademisi, praktisi, peneliti, dunia usaha, operator transportasi, asosiasi, komunitas, BUMN dan BUMD, serta sejumlah mitra dan sponsor kegiatan.

Ketua panitia, Ir. Rhaptyalyani, ST., M.Eng., Ph.D., IPM, ASEAN Eng., mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang strategis untuk mempertemukan berbagai pemikiran dan kepentingan dalam membangun sistem transportasi Sumatera Selatan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Menurutnya, pembangunan transportasi tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan keterhubungan dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, operator transportasi, masyarakat, serta seluruh pemangku kepentingan.

“Pembangunan transportasi membutuhkan keterhubungan antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, operator, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan. Melalui kegiatan ini diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pemikiran mengenai integrasi antarmoda, konektivitas antarwilayah, kebijakan transportasi, penguatan infrastruktur serta optimalisasi perkembangan transportasi di Sumatera Selatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi sekaligus momentum pelantikan dan pengukuhan Pengurus MTI Sumsel periode 2026–2029.

FGD juga diharapkan dapat memperkuat jejaring dan kolaborasi pembangunan transportasi di Sumatera Selatan serta menghasilkan gagasan, komitmen dan rekomendasi yang konkret.

“Kami berharap seluruh kegiatan hari ini dapat menghasilkan gagasan, jejaring, komitmen serta rekomendasi yang konkret untuk mendukung pembangunan transportasi Sumatera Selatan,” katanya.

Rhaptyalyani juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Selatan dan Pemerintah Kota Palembang yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan.

Apresiasi juga disampaikan kepada para sponsor dan mitra kegiatan, di antaranya Balai Pengelola Kereta Api Ringan Sumatera Selatan, Wika Beton, PT Wijaya Bara Nusantara, Mini Konsultan serta pihak lainnya.

Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Sumatera Selatan Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Deva Octavianus Coriza, mengatakan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyambut baik pengukuhan Pengurus MTI Sumsel periode 2026–2029.

Ia berharap keberadaan MTI Sumsel dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan sektor transportasi sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam memberikan masukan yang objektif dan berbasis kajian.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, saya menyampaikan selamat kepada jajaran pengurus Masyarakat Transportasi Indonesia Wilayah Sumatera Selatan periode 2026–2029. Momentum ini bukan sekadar seremoni organisasi, tetapi merupakan awal dari sebuah amanah dan tanggung jawab untuk turut memberikan kontribusi terhadap pembangunan transportasi di Sumatera Selatan,” kata Deva.

Menurutnya, persoalan transportasi saat ini semakin kompleks seiring pertumbuhan penduduk, perkembangan kawasan perkotaan, meningkatnya mobilitas masyarakat, pertumbuhan kendaraan bermotor, kebutuhan konektivitas antarwilayah serta perkembangan teknologi.

Di sisi lain, tuntutan terhadap sistem transportasi yang ramah lingkungan juga semakin meningkat.

Karena itu, diperlukan pemikiran dan kolaborasi dari berbagai pihak untuk menjawab tantangan transportasi di masa mendatang.

“Keberadaan Masyarakat Transportasi Indonesia menjadi sangat penting sebagai ruang bertemunya berbagai pemikiran, pengalaman dan gagasan dari akademisi, praktisi, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat untuk bersama-sama mencari solusi terhadap berbagai persoalan transportasi,” ujarnya.

Deva menambahkan, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan tidak dapat bekerja sendiri dalam membangun sistem transportasi. Kolaborasi antara pemerintah daerah, MTI, dunia usaha, operator transportasi, akademisi dan masyarakat diperlukan untuk menghasilkan kebijakan yang tepat sasaran.

Ia juga menilai tema FGD mengenai peran strategis rencana induk jaringan LLAJ sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan transportasi Sumatera Selatan.

“Transportasi merupakan salah satu fondasi penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah. Mobilitas orang dan barang harus dapat berlangsung secara aman, nyaman, terjangkau, efisien dan berkelanjutan,” jelasnya.

Sumatera Selatan, lanjut Deva, memiliki wilayah yang luas dengan karakteristik kebutuhan transportasi yang beragam. Di satu sisi terdapat kawasan perkotaan dengan mobilitas masyarakat yang tinggi, sementara di sisi lain terdapat kawasan industri, kawasan ekonomi, permukiman serta wilayah antarkabupaten dan kota yang membutuhkan konektivitas semakin baik.

Karena itu, perencanaan jaringan transportasi harus mampu mengantisipasi perkembangan wilayah dan perubahan pola mobilitas masyarakat.

Dalam konteks tersebut, rencana induk jaringan LLAJ dinilai memiliki posisi strategis sebagai acuan bersama dalam membangun sistem transportasi yang terintegrasi.

Rencana tersebut diharapkan dapat menghubungkan jaringan jalan, angkutan umum, terminal, simpul transportasi, fasilitas pejalan kaki serta berbagai moda transportasi sehingga dapat saling mendukung.

Selain integrasi transportasi, Deva menekankan pentingnya penguatan transportasi massal. Masyarakat perlu mendapatkan pilihan mobilitas yang layak sehingga ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dapat dikurangi.

“Transportasi umum harus semakin aman, nyaman, terjangkau, mudah diakses dan memiliki tingkat pelayanan yang baik, termasuk dari sisi jadwal, simpul transportasi serta integrasi dengan sistem transportasi berbasis teknologi,” katanya.

Dalam FGD tersebut, isu transisi kendaraan berbahan bakar fosil menuju kendaraan listrik juga menjadi perhatian.

Menurut Deva, peralihan menuju kendaraan listrik tidak cukup hanya dengan mengganti kendaraan konvensional menjadi kendaraan listrik. Transisi tersebut membutuhkan ekosistem pendukung yang memadai.

“Transisi dari kendaraan berbasis fosil menuju kendaraan listrik tidak dapat dilakukan hanya dengan mengganti kendaraan. Kita membutuhkan ekosistem yang mencakup kesiapan infrastruktur, jaringan pengisian daya, regulasi, pembiayaan, pengelolaan limbah baterai serta manajemen energi,” ujarnya.

Ia berharap MTI Sumsel dapat memberikan perspektif akademis, teknis dan konstruktif terhadap berbagai kebijakan transportasi di Sumatera Selatan.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, kata Deva, juga siap membuka ruang dialog dan kolaborasi untuk menghasilkan rekomendasi serta gagasan yang dapat menjadi bahan dalam penyusunan maupun penguatan kebijakan transportasi daerah.

“Ke depan kita membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berbasis pembangunan infrastruktur, tetapi juga berbasis kebutuhan masyarakat, pemanfaatan data dan integrasi antarmoda,” pungkasnya.

Melalui FGD dan pengukuhan kepengurusan MTI Sumsel tersebut, para pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam membangun sistem transportasi yang aman, nyaman, terjangkau, terintegrasi, cerdas, ramah lingkungan dan berkelanjutan menuju Sumatera Selatan maju. (vie)

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *