Palembang, beritakitanew.com – Forum Komunikasi Ketua Komunitas UMKM Sumatera Selatan (FORKETAS Sumsel) terus mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berkembang, meningkatkan kualitas produk, serta mampu menembus pasar yang lebih luas.
Ketua Umum FORKETAS Sumsel, Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M., mengatakan FORKETAS menjadi wadah kebersamaan bagi komunitas dan asosiasi UMKM di Sumatera Selatan. Saat ini terdapat sekitar 28 asosiasi UMKM yang tergabung di dalamnya, dengan jumlah anggota aktif diperkirakan mencapai 2.200 pelaku UMKM.
“Dalam satu wadah ini ada 28 asosiasi UMKM. Ada PPKN, Ikatan Kuliner Nusantara, komunitas milenial dan berbagai komunitas lainnya. Jumlah anggota aktif saat ini sekitar 2.200 orang,” ujar Sri Rahayu, Senin (17/08/2026).
Menurutnya, para pelaku UMKM memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian daerah. Karena itu, FORKETAS berupaya mendukung anggotanya melalui berbagai kegiatan, termasuk pelatihan, promosi, serta keterlibatan dalam berbagai kegiatan pemerintah maupun masyarakat.
Sri Rahayu menyebut, salah satu tantangan yang dirasakan pelaku UMKM adalah menurunnya penjualan ketika memasuki masa libur panjang. Kondisi tersebut terjadi karena sebagian masyarakat Sumatera Selatan memilih bepergian ke luar daerah.
“Ketika libur panjang, ini menjadi tantangan. Kita bertanya-tanya masyarakat Sumatera Selatan pergi ke mana. Saya khawatir mereka banyak yang berlibur ke Lampung untuk mencari pantai. Dampaknya, penjualan pelaku UMKM di Palembang ikut menurun,” katanya.
Menurut Sri Rahayu, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama, khususnya pemerintah dan pelaku pariwisata. Palembang dinilai perlu memiliki lebih banyak destinasi wisata yang mampu menarik masyarakat untuk menghabiskan waktu liburan di dalam daerah.
Ia mendorong adanya inovasi destinasi wisata, termasuk kemungkinan pengembangan wisata air atau pantai buatan di Palembang.
“Jangan sampai setiap tanggal merah atau libur panjang Palembang sepi. Kita ingin masyarakat datang ke Palembang, menikmati wisata kuliner, budaya dan berbagai produk UMKM yang kita miliki,” ujarnya.
UMKM Harus Naik Kelas
Sri Rahayu juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas dan standardisasi produk bagi pelaku UMKM. Menurutnya, UMKM tidak cukup hanya memiliki produk yang enak atau menarik, tetapi juga harus mampu menghasilkan produk yang konsisten.
Ia mencontohkan produk makanan seperti cireng. Meski hanya memiliki satu atau dua jenis produk, pelaku usaha tetap dapat mengembangkan produknya menjadi sebuah brand apabila memiliki standar produksi yang jelas.
“Kalau hanya punya dua jenis produk, misalnya cireng, tetapi cireng itu digemari, bisa dibuat SOP-nya. Bagaimana campurannya, berapa suhu air, berapa suhu minyak, sampai proses penggorengannya. Semuanya harus standar,” jelasnya.
Standardisasi tersebut penting agar kualitas produk tetap sama meskipun diproduksi di tempat yang berbeda atau oleh tenaga kerja yang berbeda.
“Jangan sampai di tempat dia jual rasanya enak, tetapi ketika dibuat di tempat lain rasanya berbeda. Itu karena prosesnya belum standar,” tambahnya.
Karena itu, FORKETAS terus mendorong pelaku UMKM mengikuti pelatihan dan meningkatkan pengetahuan bisnis. Pelatihan akan dilakukan setelah peserta terkumpul sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Dorong Kemandirian dan Kedaulatan Ekonomi
Sri Rahayu juga mengajak pelaku UMKM untuk terus berpikir positif dan optimistis dalam menghadapi tantangan ekonomi. Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan tema HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, yakni “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”
Ia menilai kedaulatan ekonomi dapat diwujudkan dengan memperkuat kemampuan masyarakat memproduksi kebutuhan sendiri sehingga ketergantungan terhadap produk dari luar dapat dikurangi.
“Kedaulatan itu artinya kita bisa mandiri. Apa pun bisa kita lakukan. Jangan terus mengimpor dari luar ketika masyarakat Indonesia sebenarnya mampu memproduksinya sendiri,” katanya.
Ia juga mengapresiasi berbagai kebijakan pemerintah yang dapat membuka ruang bagi UMKM, termasuk kegiatan-kegiatan yang melibatkan pelaku usaha lokal.
Menurutnya, kegiatan sederhana seperti penggunaan pakaian adat dalam berbagai acara pemerintah dapat memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha, mulai dari penyewaan pakaian adat, jasa salon, fotografer, hingga pelaku usaha fashion.
“Ketika ada kegiatan seperti ini dan masyarakat menggunakan pakaian adat, pelaku usaha yang bergerak di bidang persewaan pakaian, fashion, salon dan fotografer ikut mendapatkan manfaat. Ini juga bagian dari menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
FORKETAS Sumsel sendiri terbentuk pada 3 Maret 2023. Sejak berdiri, forum tersebut terus berupaya menjadi wadah komunikasi dan kolaborasi bagi komunitas UMKM di Sumatera Selatan.
Sri Rahayu berharap seluruh pelaku UMKM terus meningkatkan kapasitas, memperkuat legalitas, menjaga kualitas produk, serta mampu membangun brand yang berdaya saing.
“Semoga teman-teman UMKM tetap semangat dan berpikir positif. Peran media juga penting untuk menciptakan pemberitaan dan kalimat-kalimat positif yang bisa menjadi energi bagi pelaku UMKM untuk terus berkembang,” pungkasnya. (vie)

