Palembang –Upacara 17 Agustus 2026 menjadi hari kemerdekaan jadi momen tak terlupakan bagi Sekolah SMK Negeri 2 Palembang, di mana di sekolah tersebut di terpa isu tak sedap.
Kepala SMKN 2 Palembang, H. Suparman, S.Pd., M.Si., menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan meminta seluruh siswa tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang berupaya memicu bentrokan antarpelajar.
Hal itu disampaikan Suparman usai pelaksanaan upacara dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan SMKN 2 Palembang.
Menurut Suparman, pelaksanaan upacara tahun ini memiliki nuansa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Para siswa mengenakan pakaian tradisional nasional, termasuk batik jumputan maupun pakaian adat.

Dalam kesempatan tersebut, pihak sekolah juga memberikan apresiasi atas berbagai prestasi yang diraih para siswa SMKN 2 Palembang. Salah satunya adalah keberhasilan meraih peringkat keenam pada Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat nasional.
Selain itu, siswa SMKN 2 Palembang juga berhasil menorehkan prestasi di bidang robotik. Dalam kompetisi yang berlangsung di Jakarta, sekolah tersebut berhasil membawa pulang satu medali emas, tiga perak dan dua perunggu.
“Alhamdulillah, prestasi anak-anak kita cukup membanggakan. Kita mampu bersaing dengan sekolah dari berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, Kalimantan hingga Banten,” ujar Suparman. Senin (17/08/2026).
Sekolah juga memberikan penghargaan kepada siswa yang berhasil meraih prestasi dalam kejuaraan drum band. SMKN 2 Palembang berhasil meraih juara pertama untuk salah satu kategori yang dipertandingkan.
Suparman menegaskan, prestasi tersebut harus menjadi motivasi bagi siswa untuk terus mengembangkan kemampuan dan mengukir prestasi, bukan terlibat dalam kenakalan remaja ataupun aksi kekerasan.
Terkait adanya isu penyerangan antarpelajar, Suparman meminta siswa dan orang tua tidak mudah percaya terhadap informasi maupun ajakan yang belum jelas kebenarannya.
Ia menegaskan, tidak seluruh siswa SMKN 2 Palembang terlibat dalam persoalan tersebut. Menurutnya, bisa saja ada oknum yang terprovokasi oleh pihak luar sehingga kemudian muncul persoalan antarpelajar.
“Kita jangan sampai termakan isu. Jangan seolah-olah kejadian kemarin membuat anak-anak SMKN 2 hari ini akan menyerang sekolah lain. Tidak mungkin. Anak-anak kita harus kita jaga agar tidak menjadi korban hasutan,” tegasnya.
Ia juga mengimbau siswa untuk langsung pulang ke rumah setelah kegiatan sekolah dan tidak melakukan aktivitas berkumpul atau nongkrong yang berpotensi menimbulkan persoalan.

“Bagi orang tua yang khawatir, hari ini banyak yang mengantar dan menjemput anak-anak. Kami juga mengimbau jangan ada yang nongkrong. Kalau kedapatan melakukan pelanggaran, kami akan kembalikan kepada orang tua,” katanya.
Suparman menambahkan, pihak sekolah juga berkoordinasi dengan kepolisian untuk mencegah terjadinya kembali aksi yang melibatkan pelajar. Ia mengingatkan bahwa keterlibatan siswa dalam tindakan melanggar hukum dapat berdampak terhadap masa depan mereka.
Sementara itu, Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol. Dr. Sandi Nugroho melalui Kasubdit Sospol Ditintelkam Polda Sumsel AKBP Karminto, S.H., M.H., mengatakan kepolisian telah melakukan koordinasi dengan sejumlah sekolah terkait dugaan keterlibatan pelajar dalam aksi sebelumnya.
Menurut Karminto, pihak kepolisian juga mengidentifikasi sejumlah pelajar yang diduga terlibat dan meminta sekolah memberikan pembinaan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Polda. Bagi yang terindikasi dan sudah ada gambarnya, sekolah akan didatangi dan diberikan imbauan agar tidak mengulangi kembali,” ujarnya.
Ia menegaskan, kepolisian juga terus melakukan upaya pencegahan terhadap provokasi yang melibatkan pelajar, termasuk mengantisipasi kemungkinan adanya pihak luar maupun oknum alumni yang menghasut siswa.
Karminto meminta para pelajar untuk tidak mengikuti ajakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun sekolah. Setelah mengikuti upacara, para siswa diimbau langsung pulang ke rumah dan melanjutkan aktivitas belajar.
“Anak-anak ini masih polos. Jangan sampai mereka dipengaruhi atau dihasut oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kita ingin mereka belajar, mengejar impian dan cita-cita,” katanya.
Ia menambahkan, pendidikan dan pembinaan harus menjadi prioritas dalam mencegah kenakalan remaja.
“Kita selalu menekankan kepada anak didik agar terus berinovasi dan berprestasi, bukan melakukan kenakalan remaja,” pungkasnya. (vie)

