960 Ton Sampah per Hari Masuk PSEL, Palembang Mulai Ubah Limbah Jadi Energi

berita kita new
5 Min Read

Palembang, beritakitanew.com – Babak baru pengelolaan sampah di Kota Palembang resmi dimulai. Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang mengawali pengiriman sampah perdana dari sejumlah wilayah menuju fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).

Langkah tersebut menjadi tonggak baru dalam penerapan sistem pengelolaan sampah berbasis teknologi, sekaligus membuka peluang pemanfaatan sampah sebagai sumber energi listrik.

Momentum pengiriman perdana tersebut ditinjau langsung Wali Kota Palembang Drs. H. Ratu Dewa, M.Si. Ia menilai keberadaan PSEL menjadi langkah strategis untuk menangani persoalan sampah perkotaan secara lebih modern, terintegrasi dan berkelanjutan.

“Hari ini adalah hari perdana masuknya sampah dari beberapa tempat ke PSEL yang menghasilkan energi listrik. Dari Dinas Lingkungan Hidup diperkirakan sampah yang masuk mencapai 960 ton per hari,” ujar Ratu Dewa saat meninjau lokasi PSEL.

Menurutnya, PSEL Palembang tidak hanya menjadi fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga bagian dari upaya pemerintah menghadirkan solusi jangka panjang terhadap persoalan lingkungan sekaligus menghasilkan manfaat energi bagi masyarakat.

Ratu Dewa menegaskan, PSEL Palembang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) dan ditunjuk sebagai salah satu proyek percontohan di tingkat nasional.

“Ini merupakan proyek strategis nasional dan Palembang menjadi salah satu percontohan. Jadi kita berharap pelaksanaannya berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Sampah Diolah Menjadi Energi

Dalam sistem pengolahan PSEL, sampah yang telah dikirim terlebih dahulu menjalani sejumlah tahapan sebelum memasuki proses pengolahan lebih lanjut.

Material sampah difermentasi selama sekitar lima hingga tujuh hari untuk mempersiapkan proses berikutnya hingga akhirnya dapat dimanfaatkan dalam menghasilkan energi listrik.

Sistem tersebut dirancang untuk mengubah timbulan sampah yang selama ini menjadi persoalan lingkungan menjadi bahan baku yang memiliki nilai manfaat.

Perjalanan PSEL Palembang juga akan memasuki agenda penting pada September 2026. Rencananya, pada 10 September mendatang akan digelar agenda yang dihadiri sejumlah pejabat pemerintah pusat, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pangan serta Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.

Sementara itu, peresmian fasilitas PSEL ditargetkan berlangsung pada Desember 2026 dan direncanakan diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia.

Bagi Pemkot Palembang, keberadaan PSEL diharapkan menjadi momentum untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan terintegrasi, sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan energi.

960-1.000 Ton Sampah Dialihkan ke PSEL

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang Akhmad Mustain menjelaskan, pengiriman sampah menuju PSEL mencakup wilayah yang cukup luas.

Pengangkutan dilakukan terhadap timbulan sampah dari lebih dari 400 Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang tersebar di seluruh Kota Palembang.

Dari total timbulan sampah Kota Palembang yang mencapai sekitar 1.260 ton per hari, sebanyak 960 hingga 1.000 ton per hari dialokasikan menuju bunker PSEL.

“Pengangkutan mencakup seluruh wilayah. Kita terus mengatur ritase armada agar distribusi sampah menuju PSEL dapat berjalan optimal,” jelasnya.

Untuk menunjang proses pengangkutan tersebut, Pemkot Palembang saat ini menyiagakan 141 armada dari total 160 armada yang tersedia.

Pemkot Palembang juga menyiapkan penambahan armada baru melalui Anggaran Perubahan. Penambahan tersebut diharapkan mampu memperkuat sistem pengangkutan sekaligus mengurangi beban armada yang saat ini beroperasi.

Masyarakat Tetap Punya Peran

Beroperasinya PSEL membawa perubahan dalam cara pandang terhadap sampah. Jika sebelumnya sampah lebih banyak dipandang sebagai persoalan lingkungan dan membutuhkan lahan pembuangan, kini sebagian besar timbulan sampah dapat diarahkan untuk diolah menjadi bahan baku energi.

Namun, Pemkot Palembang menegaskan keberadaan PSEL bukan berarti persoalan sampah dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan fasilitas pengolahan.

Peran masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Masyarakat diimbau mulai mengurangi produksi sampah dari sumbernya serta melakukan pemilahan sejak dari rumah.

Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat digunakan kembali atau dimanfaatkan, sedangkan sampah yang memang harus diolah dapat diarahkan ke sistem pengelolaan yang telah tersedia.

Konsep tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yakni memandang sampah tidak semata-mata sebagai limbah, tetapi sebagai material yang masih memiliki nilai dan dapat dimanfaatkan kembali.

Dengan dimulainya pengiriman sampah perdana menuju PSEL, Palembang memasuki babak baru dalam pengelolaan lingkungan perkotaan.

Bagi Pemkot Palembang, PSEL menjadi salah satu ikhtiar untuk mewujudkan kota yang tidak hanya lebih bersih, tetapi juga mampu mengubah persoalan sampah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat bagi masyarakat. (vie)

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *