700 Orang Turun ke Sungai Musi, Ratu Dewa Ajak Warga Jadikan Kebersihan sebagai Budaya

berita kita new
5 Min Read

Palembang, beritakitanew.com – Semangat menjaga kebersihan Sungai Musi kembali digaungkan Pemerintah Kota Palembang. Wali Kota Palembang H. Ratu Dewa, M.Si., turun langsung memimpin aksi bersih-bersih sampah di kawasan 7 Ulu, sekitar Jembatan Ampera, Sabtu (12/9/2026).

Aksi tersebut merupakan bagian dari Gerakan Menjaga Sungai Palembang dan Clean Up Sungai Musi yang melibatkan sekitar 700 peserta dari berbagai unsur, mulai dari relawan, komunitas, mahasiswa, pemuda, masyarakat hingga jajaran pemerintah.

Dengan penuh semangat, Ratu Dewa bersama peserta menyusuri kawasan bantaran Sungai Musi untuk mengangkat dan mengumpulkan sampah yang mencemari lingkungan.

Kegiatan tersebut turut melibatkan The Guardians of The River–ICCN Sumatera Selatan, Koordinator Daerah ICCN Sumsel Muhammad Hafidz Alfuqan, serta aktivis lingkungan asal Jerman, Benedict Wermter, yang dikenal dengan sebutan Bule Sampah.

Ratu Dewa mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian bersama terhadap Sungai Musi yang tidak hanya menjadi ikon Kota Palembang, tetapi juga memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.

“Atas nama Pemerintah Kota Palembang, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas terselenggaranya Gerakan Menjaga Sungai Palembang dan Clean Up Sungai Musi,” ujar Ratu Dewa.

Menurutnya, Sungai Musi memiliki nilai ekologis, sejarah, sosial dan budaya yang tidak terpisahkan dari identitas Kota Palembang. Karena itu, upaya menjaga kebersihan sungai tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.

Ratu Dewa mengungkapkan, persoalan sampah masih menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi Kota Palembang. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup, timbulan sampah di Palembang mencapai sekitar 1.260 ton per hari atau lebih dari 460 ribu ton dalam setahun.

Pemerintah Kota Palembang terus memperkuat sistem pengelolaan sampah, salah satunya melalui program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Keramasan yang memiliki kapasitas pengolahan hingga 1.000 ton sampah per hari.

Namun, menurut Ratu Dewa, keberadaan fasilitas pengolahan sampah tersebut bukan berarti masyarakat dapat mengabaikan upaya pengurangan sampah dari sumbernya.

“PSEL bukan berarti kita boleh terus menghasilkan sampah. Pengurangan dan pemilahan sampah tetap harus dimulai dari rumah, lingkungan dan masyarakat,” tegasnya.

Ia mengajak masyarakat untuk menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta membiasakan memilah sampah sejak dari rumah.

Ratu Dewa menekankan bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari langkah sederhana, yakni diri sendiri dan keluarga, kemudian ditularkan kepada lingkungan sekitar.

“Jangan buang sampah sembarangan. Mari kita peduli lingkungan dan menjadikannya sebagai budaya. Mulai dari diri sendiri, keluarga, kemudian mengajak masyarakat,” ajaknya.

Sementara itu, Koordinator Daerah ICCN Sumatera Selatan, Muhammad Hafidz Alfuqan, mengatakan aksi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan bersih-bersih sesaat, tetapi berkembang menjadi gerakan yang dilakukan secara konsisten.

Menurut Hafidz, keterlibatan sekitar 700 peserta dari berbagai latar belakang menunjukkan adanya kepedulian yang semakin luas terhadap kondisi Sungai Musi.

Mahasiswa, pemuda, komunitas, relawan dan masyarakat turut bergabung dalam kegiatan tersebut. Kolaborasi lintas kelompok itu dinilai menjadi modal penting untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga kebersihan sungai.

“Yang paling penting adalah konsisten. Gerakan ini jangan hanya berhenti pada satu kegiatan, tetapi harus terus dilakukan,” ujarnya.

Hafidz juga mengapresiasi keterlibatan langsung Pemerintah Kota Palembang dalam aksi tersebut. Menurutnya, kehadiran pemerintah bersama masyarakat dapat memperkuat pesan bahwa menjaga sungai merupakan tanggung jawab bersama.

Aktivis lingkungan asal Jerman, Benedict Wermter, yang dikenal sebagai Bule Sampah, juga turut turun langsung dalam aksi membersihkan kawasan Sungai Musi.

Benedict mengapresiasi kesempatan untuk terlibat dalam gerakan tersebut. Menurutnya, Palembang memiliki posisi penting sebagai salah satu kota besar di Indonesia dengan Sungai Musi sebagai bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat.

Ia menilai persoalan sampah tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi membutuhkan aksi nyata sekaligus kampanye yang mampu menjangkau masyarakat luas.

“Menurut saya kita harus membuat aksi, bukan cuma membuat aksi, tetapi juga membuat video, membuatnya viral dan membangun kesadaran,” katanya.

Benedict berharap gerakan tersebut dapat semakin dikenal masyarakat sehingga pesan mengenai pentingnya menjaga kebersihan sungai dapat menjangkau lebih banyak orang.

Aksi bersih Sungai Musi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, komunitas, relawan, mahasiswa dan masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Lebih dari sekadar mengangkat sampah, gerakan tersebut diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat agar tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah serta bersama-sama menjaga Sungai Musi sebagai warisan lingkungan dan identitas Kota Palembang. (vie)

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *