Dari Muara Enim untuk Indonesia, Lapangan Cantik PT SRB Terus Menyuplai Energi Meski Tinggal Satu Sumur Aktif

berita kita new
6 Min Read

Muara Enim, beritakitanew.com – Sebanyak 80 awak media yang tergabung dalam Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumatera Selatan mendapat kesempatan melihat langsung proses produksi gas bumi di wilayah kerja PT Sele Raya Belida (SRB), Kecamatan Lembak, Kabupaten Muara Enim, Senin (8/6/2026).

Kegiatan Field Trip yang digagas SKK Migas Perwakilan Sumbagsel ini bertujuan meningkatkan pemahaman insan pers terhadap industri hulu minyak dan gas bumi yang memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional. Para jurnalis diajak mengunjungi Lapangan Cantik, salah satu lapangan produksi andalan PT SRB, sekaligus meninjau fasilitas produksi, sistem pengolahan gas, penerapan aspek Health, Safety, Security and Environment (HSSE), hingga kontribusi sektor migas terhadap perekonomian daerah.

Field Superintendent PT Sele Raya Belida, Elvi Kurnia Hakim, mengatakan media memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi yang akurat, berimbang, dan edukatif kepada masyarakat terkait industri hulu migas yang selama ini belum sepenuhnya dipahami publik.

“Kegiatan ini menjadi sarana bagi rekan-rekan media untuk melihat secara langsung bagaimana proses produksi migas berlangsung di lingkungan PT SRB. Kami berharap kunjungan ini dapat menambah pemahaman mengenai pentingnya industri hulu migas dalam mendukung kebutuhan energi nasional,” ujarnya.

Elvi menjelaskan, Lapangan Cantik memiliki cerita unik di balik penamaannya. Nama tersebut dipilih sebagai simbol harapan agar lapangan ini mampu menghasilkan produksi gas yang baik, berkualitas, dan memberikan manfaat besar bagi perusahaan, masyarakat, maupun negara.

Menariknya, lapangan yang semula diperkirakan hanya mampu beroperasi hingga 2019 itu masih bertahan hingga sekarang berkat berbagai upaya optimalisasi produksi dan pengelolaan lapangan yang berkelanjutan.

“Harapan kami tentu produksi dari Lapangan Cantik dapat terus terjaga bahkan meningkat. Lapangan ini merupakan salah satu aset penting PT SRB dalam mendukung produksi gas perusahaan,” katanya.

Saat ini Lapangan Cantik memiliki delapan sumur produksi. Namun dari jumlah tersebut, hanya satu sumur yang masih aktif dan terus berkontribusi terhadap produksi gas perusahaan. Meski demikian, lapangan tersebut masih mampu menghasilkan sekitar 1,3 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day) dengan luas fasilitas produksi mencapai hampir 1,5 hektare.

Selain Lapangan Cantik, PT SRB juga mengelola Lapangan Sungai Anggur Selatan yang turut menopang produksi gas perusahaan di wilayah kerja tersebut.

Sementara itu, Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, Syafei Safri SH, menegaskan bahwa keberhasilan industri hulu migas tidak dapat dicapai hanya oleh perusahaan dan pemerintah semata. Dukungan seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan sektor energi nasional.

“Keberhasilan industri hulu migas membutuhkan dukungan masyarakat, pemerintah daerah, aparat keamanan, media massa hingga tokoh masyarakat. Semua memiliki peran dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi kegiatan eksplorasi dan produksi migas,” ujarnya.

Menurut Syafei, SKK Migas bersama seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) terus berupaya menjaga agar produksi migas nasional tidak mengalami penurunan. Berbagai program dilakukan, mulai dari eksplorasi wilayah baru, pengeboran sumur pengembangan, workover, well intervention, hingga optimalisasi lapangan yang telah berproduksi.

“Kalau lapangan terus diproduksikan tanpa eksplorasi dan pengembangan, tentu produksinya akan menurun. Karena itu diperlukan perawatan, pengembangan lapangan, dan pencarian cadangan baru agar produksi tetap terjaga bahkan meningkat,” jelasnya.

Ia menambahkan, setiap kegiatan eksplorasi selalu membawa harapan baru bagi masa depan industri migas nasional.

“Setiap eksplorasi sumur selalu menyimpan peluang dan harapan. Ketika ditemukan cadangan baru, produksi meningkat dan manfaatnya bukan hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga negara serta masyarakat luas,” katanya.

Syafei juga menegaskan bahwa seluruh kegiatan migas wajib memenuhi berbagai persyaratan dan perizinan yang ditetapkan pemerintah, termasuk dokumen lingkungan seperti Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

“Tanpa izin dan dokumen yang dipersyaratkan, kegiatan migas tidak dapat dilaksanakan. Semua proses harus mengikuti mekanisme dan regulasi yang berlaku,” tegasnya.

Saat ini pemerintah menargetkan produksi minyak nasional mencapai sekitar 610 ribu barel minyak per hari (BOPD). Untuk mencapai target tersebut, SKK Migas bersama seluruh KKKS terus menjalankan berbagai langkah strategis guna menjaga dan meningkatkan produksi nasional.

“Setiap lapangan migas yang masih berproduksi, termasuk Lapangan Cantik milik PT SRB, memiliki kontribusi penting dalam menjaga pasokan energi nasional,” ujarnya.

Ketua Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel, Oktaf Riady SH, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, kunjungan lapangan menjadi kesempatan berharga bagi insan pers untuk memahami secara langsung proses bisnis migas yang kompleks dan penuh tantangan.

“Bagi jurnalis, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat karena menambah wawasan mengenai industri hulu migas yang memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional. Dengan melihat langsung kondisi lapangan, proses produksi hingga tantangan yang dihadapi, informasi yang disampaikan kepada publik tentu menjadi lebih lengkap, akurat, dan objektif,” katanya.

Selain berkontribusi terhadap ketahanan energi nasional, keberadaan PT Sele Raya Belida juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Aktivitas industri hulu migas menciptakan efek berganda (multiplier effect) melalui penyerapan tenaga kerja, penggunaan jasa dan usaha lokal, pembangunan infrastruktur pendukung, serta berbagai program pemberdayaan masyarakat yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. (vie)

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *