Harga Cabai Merah Melonjak, Jadi Penyumbang Terbesar Inflasi Palembang Oktober 2026

berita kita new
3 Min Read

Palembang, beritakitanew.com –  Kenaikan harga cabai merah menjadi faktor utama yang mendorong inflasi Kota Palembang pada Oktober 2026. Komoditas tersebut tercatat sebagai penyumbang inflasi terbesar dibandingkan sejumlah komoditas lainnya yang mengalami kenaikan harga.

Kondisi ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang karena kenaikan harga bahan pangan berpengaruh langsung terhadap pengeluaran rumah tangga serta daya beli masyarakat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palembang, inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Oktober 2026 mencapai 2,69 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan September 2026 yang tercatat sebesar 2,40 persen.

Dari 139 komoditas yang mengalami kenaikan harga, cabai merah memberikan andil terbesar terhadap inflasi, yakni 0,289 persen. Sementara itu, cabai rawit turut menyumbang inflasi sebesar 0,029 persen.

Meski mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya, inflasi Kota Palembang masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Angka tersebut juga masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Asisten II Setda Kota Palembang, Isnaini Madani, mengatakan Pemkot Palembang terus memantau perkembangan inflasi, khususnya terhadap komoditas yang berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.

“Pengendalian inflasi menjadi perhatian serius pemerintah kota karena berkaitan langsung dengan stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Data inflasi yang dirilis BPS menjadi dasar penting bagi kami untuk mengidentifikasi komoditas penyumbang kenaikan harga sekaligus menentukan langkah antisipasi,” ujar Isnaini.

Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Rilis Resmi Inflasi dan Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Oktober 2026 serta Berita Resmi Statistik Pariwisata Kota Palembang di Kantor BPS Kota Palembang, Senin (2/11/2026).

Menurut Isnaini, pengendalian inflasi tidak cukup hanya dilakukan melalui pemantauan harga di pasar. Pemerintah juga harus memastikan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dengan harga yang terjangkau.

Untuk itu, Pemkot Palembang terus memperkuat strategi 4K, meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Sejumlah langkah strategis telah disiapkan, di antaranya memperkuat kerja sama antardaerah, menggelar operasi pasar dan pasar murah di tingkat kecamatan maupun kelurahan, serta merencanakan penambahan cadangan pangan.

“Strategi 4K terus kami optimalkan. Mulai dari menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, hingga memperkuat komunikasi dengan daerah penghasil, distributor, dan agen komoditas,” jelasnya.

Selain melakukan intervensi pasar, Pemkot Palembang juga mendorong rehabilitasi jalan, revitalisasi pasar, serta pengaturan lalu lintas guna mendukung kelancaran distribusi barang kebutuhan pokok.

Koordinasi dengan daerah penghasil dan para pelaku distribusi turut diperkuat untuk mengantisipasi potensi kelangkaan pasokan maupun lonjakan harga komoditas di pasaran.

Isnaini berharap sinergi antara Pemkot Palembang, BPS, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta seluruh pemangku kepentingan dapat terus ditingkatkan demi menjaga stabilitas harga.

“Pengendalian inflasi membutuhkan kerja sama semua pihak. Kami berharap melalui sinergi yang kuat, stabilitas harga di Kota Palembang dapat terus terjaga sehingga masyarakat tidak terbebani oleh kenaikan harga kebutuhan pokok,” pungkasnya. (vie)

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *